“Mengusahakan terwujudnya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah” merupakan rumusan tujuan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Di balik kalimat tersebut terdapat pertanyaan penting: apa sebenarnya makna “akademisi” yang hendak diwujudkan IMM, dan sejauh mana gerakan IMM hari ini mencerminkan cita-cita tersebut?
Akademisi tidak sekadar berarti seseorang yang menempuh pendidikan tinggi. Ia memiliki tanggung jawab intelektual untuk membangun pemikiran dan tindakan berdasarkan pengetahuan, argumentasi, serta metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, ketika IMM menyebut “akademisi” sebagai bagian dari tujuannya, maka setiap gerakan yang dilakukan semestinya tidak berhenti pada aktivitas yang terlihat baik, tetapi juga mampu menjawab pertanyaan: mengapa gerakan ini dilakukan, berdasarkan analisis apa, dengan metode apa, dan untuk mencapai perubahan seperti apa?
Di sinilah gagasan “IMM Epistemologis” menjadi relevan. Epistemologi pada dasarnya membahas bagaimana pengetahuan diperoleh, apa sumber dan batas-batasnya, serta bagaimana suatu pengetahuan dapat dianggap benar. Dalam kehidupan akademik, epistemologi berkaitan erat dengan metodologi. Seorang akademisi tidak cukup hanya memiliki pendapat; ia dituntut mampu menjelaskan dasar dan proses yang melahirkan pendapat tersebut.
Prinsip yang sama semestinya berlaku dalam gerakan IMM. Program sosial, advokasi, kajian, maupun pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya dinilai dari keberhasilannya terlaksana. Gerakan tersebut juga perlu memiliki landasan pengetahuan dan metodologi yang jelas. Dengan demikian, IMM tidak hanya menjadi organisasi yang aktif bergerak, tetapi juga organisasi yang mampu menjelaskan secara intelektual mengapa ia bergerak dan ke arah mana perubahan hendak dibawa.
Salah satu kerangka yang dapat digunakan adalah epistemologi Bayani, Burhani, dan Irfani yang diperkenalkan dalam pemikiran Muhammad Abid al-Jabiri. Ketiganya dapat menjadi cara untuk membaca realitas secara lebih utuh. Bayani memberikan perhatian pada teks dan sumber keagamaan, Burhani menekankan argumentasi rasional dan pembuktian, sementara Irfani menghadirkan dimensi pengalaman batin, nilai, dan spiritualitas.
Bayangkan IMM menemukan anak-anak di sekitar lingkungannya yang tidak memperoleh gizi dan pendidikan yang layak. Pendekatan Bayani dapat membawa kader pada nilai-nilai Al-Qur’an, misalnya pesan kemanusiaan dalam Surah Al-Ma’un. Pendekatan Burhani kemudian mendorong kader menganalisis penyebab persoalan, menentukan kebutuhan masyarakat, dan merancang bentuk intervensi yang tepat. Sementara Irfani memberikan dimensi spiritual agar gerakan tersebut tidak kehilangan keikhlasan, kepedulian, dan orientasi ketuhanan. Dari ketiganya, lahirlah gerakan yang bukan sekadar reaksi spontan, tetapi gerakan yang memiliki dasar nilai, rasionalitas, dan spiritualitas.
Inilah yang dimaksud dengan IMM Epistemologis: gerakan yang berpikir sebelum bergerak, menganalisis sebelum bertindak, dan mampu mempertanggungjawabkan setiap langkahnya secara intelektual sekaligus moral.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah program IMM berjalan atau tidak. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah setiap gerakan tersebut benar-benar mencerminkan identitas IMM sebagai organisasi yang ingin membentuk akademisi Islam?
Pertanyaan itu tidak harus dijawab dengan tergesa-gesa. Ia justru perlu menjadi bahan refleksi bersama bagi setiap kader. Sebab, menjadi akademisi bukan hanya tentang memiliki gelar, membaca buku, atau berdiskusi di ruang-ruang kampus. Menjadi akademisi berarti memiliki keberanian untuk memahami realitas, menguji gagasan, menyusun metodologi, dan mempertanggungjawabkan tindakan.
Maka, IMM Epistemologis bukan sekadar gagasan tentang bagaimana IMM berpikir, tetapi ajakan agar setiap gerakan IMM memiliki alasan, metode, dan tanggung jawab intelektual. Dari sanalah cita-cita membentuk akademisi Islam yang berakhlak mulia dapat mulai diterjemahkan dari sebuah rumusan tujuan menjadi praktik gerakan yang nyata.












